Selamat Datang Di Sisi Lain. Copas Dizinkan Jika Tidak Keberatan Mohon Sertakan Linkback. Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Anda Sebelum Pergi. Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Thxz Too Blogspot.
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Misteryy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Misteryy. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

SMS ( Page Bali News )

Salam hangat pembaca Sisi Lain. Senang sekali kali ini saya bisa bebas sesaat dari pekerjaan sehari-hari yang membelenggu saya belakangan ini.

Aahh…….. ^,^

Tak usah basa basi lagii. Kali ini saya ingin memaparkan bagaimana saya menyikapi isu/informasi yang berkembang di masyarakat sekitar saya.
Apa anda sudah membaca Bali News Edisi kemarin? Jika belum anada bisa mnyimaknya di sini.

Bacanya Disini : Bali News

SMS (Short Message Service ) adalah layanan elektronik yang begitu popular di kalangan masyarakat kita, suatu layanan yang memungkinkan kita berkirim pesan dengan orang lain dalam waktu singkat, cepat. Tepat. Disamping semua keuntungan yang kita dapat, acap kali layanan seperti ini juga di salah gunakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungannya sendiri.



Topik kali tidak jauh-jauh dari yang namanya SMS, kemarn pagi (24 Januari 2011) daerah tempat saya sedikit “gempar” dengan adanya isu sebuah SMS yang menyatakan akan terjadinya “Bencana Alam”.
Bukan hanya dalam bentuk SMS, bahkan ada yang langsung mengetahuinya setelah mendapatkan telepon dari saudara-saudaranya.
Isi SMS dan informasi yang saya dapat seperti ini :

woy,,
mentemen,,
katnya dilmbok di Pura Batu Bolong ada orang kelinggian. ktnya di bali ma d lmbok bkal kna angin puting bliung. kita umat hindu dsruh ngaturang canang sari segehan bwang jahe 5 tanding, diaturkan di pntu rumah untk nunas pang slamet ring Betara Bayu.

Dan jika di alih bahasakan (Translate) ke Bahasa Indonesia yang baik :

Di Pura Batu Bolong, Lombok dikatakan seseorang mengalami kesurupan dan menyampaikan pesan jika di Bali dan Lombok bakal terjadi bnecana angin puting beliung. dan umat Hindu di bali diminta untuk menghaturkan sesajen berupa canang, dengan di tambah sajen berupa nasi+bawang+jahe sebanyak 5 set (tanding) untuk meminta keselamatan ke hadapan Tuhan sebagai manifestasinya Betara Bayu.

Dan saya pun mempunyai pendapat tentang SMS/pesan ini. 3 hal yang saya tangkap dari pesan ini adalah.

- Gaya Bahasa
- Sesajennya
- Bencana yang Akan Terjadi


Kita lihat pertama-tama dari segi bahasanya.

woy,,
mentemen,,
katnya dilmbok di Pura Batu Bolong ada orang kelinggian.

Terlihat jelas ini merupakan bahasa anak-anak muda jaman sekarang saat berkirim pesan (SMSan) dengan temannya. Jika memang ini merupakan pemberitahuan yang nyata adanya setidaknya bahasa yang digunakan bisa lebih baik dari ini. Namun, terdapat juga kemungkinan jika si pengirim pesan ini mendapatkan Informasinya bukan dalam bentuk SMS, melainkan dari orang tua, orang lain, Dsb. Si pembuat pesan merasa akan lebih cepat jika informasi ini diberitahukan lewat layanan SMS. Dan mungkin si pembuat pesan Masih Muda ^,^.

Kedua, Sesajen yang harus dibuat.

ngaturang canang sari segehan bwang jahe 5 tanding (sesajen berupa canang, dengan di tambah sajen berupa nasi+bawang+jahe sebanyak 5 set (tanding))

Nah, jika dilihat dari sesajennya… sesajen di atas sebenarnya sesajen yang biasa digunakan pada saat Kajeng Kliwon ( Hari khusus umat hindu yang datangnya setiap 15 hari sekali yang mewajibkan umat Hindu menghaturkan sesajen berupa di atas).

Ketiga, Bencana yang akan terjadi.

di Bali dan Lombok bakal terjadi bnecana angin puting beliung
Di lihat dari fakta di lapangan (daerah temta saya tinggal) memang benar di Bali sedang dilanda hujan yang selalu mengguyur seminggu belakangan dan disertai angin kencang dan petir. Berikut dua berita yang menyatakan memang benar di Bali sedang dilanda hujan yang disertai angin kencang.
Saya kutip langsung di harian pagi Bali Post.

25 Januari 2011 | BP
Puting Beliung di Kuta 17 Rumah Hancur, 5 Kendaraan RusakMangupura (Bali Post) –


Puting beliung kembali melanda Badung, Senin (24/1) kemarin. Akibatnya terjadi sejumlah kerusakan di sejumlah wilayah di Badung. Belasan rumah di Legian, Kuta, atapnya hancur akibat angin ini. Di Desa Sobangan, Mengwi, sebuah pohon besar roboh dan berdampak ikutan robohnya sembilan tiang listrik.

Cuaca ekstrem mulai terjadi sekitar pukul 13.00 wita. Angin mulai kencang disusul hujan gerimis. Puncaknya terjadi sekitar pukul 13.30 wita.

Di Legian Kelod, tepatnya di Jalan Sriwijaya, angin berembus sangat kencang dan berputar-putar. Cuaca yang begitu ekstrem ini langsung membuat warga panik. Hanya dalam hitungan menit, kawasan Jalan Sriwijaya, Gang Darma Kerti dan Gang Batako, Legian Kelod porak-poranda. Atap-atap rumah yang terbuat dari genteng dan seng beterbangan. Kerusakan juga menimpa artshop dan toko. Bahkan, bangunan Koperasi Kuta Mimba juga mengalami kerusakan. Selain itu, sebuah pohon besar di Stadion Tri Sakti Legian juga tumbang dan menimpa tembok stadion.

Di Jalan Dewi Sri, Gang I, rumah Made Dedi hancur akibat tertimpa pohon mangga yang roboh akibat tiupan angin. Angin kencang di seputar jalan ini juga menyebabkan genteng rumah warga hancur. Puing-puing kerusakannya bahkan menyebabkan sekitar enam sepeda motor dan sebuah mobil rusak cukup parah.

Kabid Perlindungan Masyarakat dan Bencana Alam Kesbangpollinmas Badung Putu Suryawati mengungkapkan, terdapat 17 rumah warga di kawasan Legian yang mengalami kerusakan. Untuk sementara, pihaknya belum bisa memprediksi jumlah kerugian yang diderita. ''Setidaknya ada 17 rumah warga yang rusak, kerugiannya masih kami hitung,'' ujarnya.

Menurut informasi, di Banjar Selat Sobangan, sebuah pohon tumbang menimpa kabel listik PLN. Akibatnya, sembilan tiang listrik roboh.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan tumbangnya sebuah pohon di pasar tradisional Sempidi. Pohon angsana di pasar tersebut tercabut dari akarnya dan menimpa bangunan pasar. Lurah Sempidi I Gusti Putu Aryawan langsung mengerahkan tenaga kebersihan kelurahan untuk membersihkan areal setempat.

Dan

» Berita Kabupaten 25 Januari 2011 | BP

Angin Kencang Robohkan Pohon BeringinPedagang Bubur Tewas, Enam Warga Luka-lukaGianyar (Bali Post) –


Angin kencang yang menerjang wilayah Gianyar, Senin (24/1) kemarin, mengakibatkan bangunan balai bengong, tower, tiang listrik dan sejumlah pohon tumbang. Bahkan, terjangan angin kencang itu menyebabkan pohon beringin di Banjar Pejengaji yang berumur ratusan tahun tumbang. Tumbangnya pohon besar tersebut menimpa balai banjar, pos kamling dan tujuh warga. Akibatnya satu warga tewas dan enam lainnya luka-luka.

Ketujuh orang tersebut Ni Nyoman Puri (48) meninggal dunia, Nyoman Lanus (75) mengalami kaki kiri patah, Nyoman Reca (66) mengalami kaki kanan patah, A.A. Gede Rai Oka (66), Wayan Mukun (61), Nyoman Bukayasa (40), I Made Warung (51) yang hanya mengalami luka ringan.

Kesaksian Made Padat, peristiwa tersebut bergitu cepat. Saat kejadian, dirinya baru saja meninggalkan pos kamling yang berada di sebelah timur pohon beringin. Korban Ni Nyoman Puri sempat menawarkan bubur kepadanya sebelum pergi. Saat itu, korban Ni Nyoman Puri berada sebelah timur pohon beringin. Sedangkan di pos kamling, duduk A.A. Gede Rai Oka, Nyoman Reca dan Nyoman Lanus. Sementara yang lainnya sedang bersantai di sekitar tempat tersebut. Tak lama kemudian angin kencang datang dan pohon beringin langsung tumbang. Selain menimpa pos kamling, pohon juga menimpa atap Balai Banjar Pejengaji.

Peristiwa tersebut mengejutkan warga hingga sempat dibunyikan kukul bulus. Warga pun menyeruak keluar rumah dan memberikan pertolongan kepada korban. Di tengah hujan turun, evakuasi dilakukan oleh warga. Korban Ni Nyoman Puri ditemukan dalam posisi menghadap ke selatan, dengan dada bersentuhan dengan teras pos kamling. Sedangkan dua orang lainnya, Lanus dan Recan bagian kakinya terjepit dan mengalami luka dan kini masih dirawat di RS Sanjiwani Gianyar.

''Saat diberikan pertolongan Ni Nyoman Puri masih dalam keadaan sadar. Namun dalam perjalanan ke puskesmas, korban mengembuskan napas terakhirnya,'' kenang Made Padat.

Kepala UPT Puskesmas Tegallalang A.A. Oka Barata mengatakan, dari hasil pemeriksaan luar, luka serius yang dialami korban pada bagian dada. Tulang rusuk korban remuk, diperkirakan jantung dan paru-paru korban mengalami luka serius, sehingga membuat korban tak bisa tertolong lagi.

Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati didampingi Kadis PU I Nyoman Nuadi langsung meninjau lokasi. Korban Ni Nyoman Puri langsung mendapatkan santunan. Pascabencana tersebut, Bupati mengimbau masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan.

Delapan Titik
Sementara itu, pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan terdapat delapan titik yang kena imbas angin kencang. Selain pohon beringin tumbang di Pejengaji, bangunan balai bengong yang ada di kuburan Desa Adat Gianyar dan Desa Adat Beng juga roboh.

Begitu pula dengan keberadaan tower Pemkab Gianyar yang digunakan sistem online di bidang keuangan yang baru ini di-launching Bupati Gianyar roboh menimpa atap gedung Kantor Bagian Pemerintahan (Tapem). Suara ledakan yang cukup keras tersebut membuat pegawai bagian Tapem yang ada di lantai dua berhamburan keluar. Bahkan, di antaranya ada yang langsung berlindung di bawah meja. Atap dan plafon gedung Tapem rusak. Sedangkan dua titik lagi hanya merupakan kejadian pohon tumbang yang merintangi jalan di jalan menuju Desa Siangan dan jalan raya Pejeng.

Penutup.
Saya sendiri menanggapinya masih bingung antara percaya dan tidak. Dan saat ini saya sangat percaya akan Kebesaran Tuhan. ^,^
Salam.

Sumber : Bali Post
[[Baca Selengkapnya....]] "SMS ( Page Bali News )..."

Kamis, 30 Desember 2010

Teknologi Pada Zaman Batu

Salam hangat untuk sahabat Sisi Lain semua, kali ini saya sedikit berbagi ilmu pengetahuan masa lampau tetapatnya pada Zaman Batu.

Jika anda berpikir bahwa teknologi hanya ada pada zaman sekarang itu “Salah Besar”. Jika anda mempelajari ilmu sejarah dan ilmu pengetahuan alam anda mungkin akan menemukan bahwa nenek moyang kita pun suda mempunyai teknologi tersendiri, meski tak secanggih sekarang.

Berikut saya jabarkan berbagai alat teknologi masa lalu dari zaman batu tua (Palaeolithikum) hingga zaman logam...

Palaeolithikum (Zaman Batu Tua)

Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat tsb adalah :


Kapak Genggam, banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut "Chopper" (alat penetak/pemotong)

Dinamakan kapak genggam, karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam.

Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, atau dalam ilmu prasejarah disebut dengan chopper artinya alat penetak.
Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya sebagai tempat menggenggam.

Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa


Fungsi: - untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah
- menangkap ikan


Flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon,yang dapat digunakan untuk mengupas makanan.

Fungsi: -untuk menguliti hewan buruan
-mengiris daging buruan
-memotong umbi-umbian./buah – buahan
-menangkap ikan

Mesolithikum (Zaman Batu Tengah)

Ditemukannya bukit-bukit kerang dipinggir pantai yang disebut "kjoken modinger" (sampah dapur) Kjoken =dapur, moding = sampah)

Alat-alat Kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua-gua yang disebut "Abris Sous Roche " Adapun alat-alat tersebut adalah :

Flaces (alat serpih) , yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu dan berguna untuk mengupas makanan.
Ujung mata panah,
batu penggilingan (pipisan),
kapak,
alat-alat dari tulang dan tanduk rusa,
Alat-alat ini ditemukan di gua lawa Sampung Jawa Timur (Istilahnya : Sampung Bone Culture = kebudayaan Sampung terbuat dari Tulang)

Tiga bagian penting Kebudayaan Mesolithikum,yaitu :

Peble-Culture (alat kebudayaan Kapak genggam) didapatkan di Kjokken Modinger
Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)
Flakes Culture (kebudayaan alat serpih) didapatkan di Abris sous Roche
Manusia Pendukung Kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua -Melanosoid

Neolithikum (Zaman Batu Muda)

Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan.

Contoh alat tersebut :


Kapak Persegi, misalnya : Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu. Ditemukan di Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan

Fungsi: - ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul/pacul.
-ukuran kecil disebut dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat.

Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api/chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari Chalcedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tAnda kebesaran.

Kapak Bahu, sama seperti kapak persegi ,hanya di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Hanya di temukan di Minahasa


Kapak Lonjong, banyak ditemukan di Irian, Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak

Fungsi: - sebagai cangkul/pacul.

Megalithikum (Zaman Batu Besar )

Hasil kebudayaan zaman Megalithikum adalah sebagai berikut :


Menhir ,
Fungsi: -sebagai tempat pemujaan untuk penghormatan terhadap arwah nenek moyang


Dolmen atau Stonehenge, adalah meja batu, merupakan

Fungsi: - Sebagai tempat sesaji dan pemujaan kepada roh nenek moyang,
- Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu.


Sarkofagus atau keranda yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup

Daerah tempat ditemukannya sarkofagus adalah Bali. Menurut masyarakat Bali Sarkofagus memiliki kekuatan magis/gaib. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa sarkofagus dikenal masyarakat Bali sejak zaman logam.
Fungsi: - tempat menyimpan mayat yang disertai bekal kuburnya

Kubur Batu/Peti Mati yang terbuat dari batu besar yang masing-masing papan batunya lepas satu sama lain

Fungsi: - tempat menyimpan mayat yang disertai bekal kuburnya


Punden Berundak
Fungsi: - sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal.


Arca Batu
Arca/patung-patung dari batu yang berbentuk binatang atau manusia. Bentuk binatang yang digambarkan adalah gajah, kerbau, harimau dan moyet. Sedangkan bentuk arca manusia yang ditemukan bersifat dinamis. Maksudnya, wujudnya manusia dengan penampilan yang dinamis seperti arca batu gajah.
Arca batu gajah adalah patung besar dengan gambaran seseorang yang sedang menunggang binatang yang diburu. Arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera Selatan). Daerah-daerah lain sebagai tempat penemuan arca batu antara lain Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Zaman Logam

zaman ini terbagi menjadi 2 zaman yaitu :

Zaman Perunggu


Kapak Corong (Kapak Perunggu), banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Balio, Sulawesi dan Kepulauan Selayar dan Irian. Kegunaannya sebagi alat perkakas.


Candrasa
Kalau dilihat dari bentuknya, tentu Candrasa tidak berfungsi sebagai alat pertanian/pertukangan tetapi fungsinya diduga sebagai tanda kebesaran kepala suku dan alat upacara keagamaan. Hal ini karena bentuknya yang indah dan penuh dengan hiasan.


Nekara perunggu(Moko), bebrbentuk seperti dandang. Banyak ditemukan di daerah : Sumatera, Jawa Bali, Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan Kep. Kei.

Zaman Besi


Pada masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.

Alat-alat yang ditemukan adalah :

Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
Mata pisau
Mata pedang
Cangkul, dll

Jenis-jenis benda tersebut banyak ditemukan di Gunung Kidul(Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punung (Jawa Timur)

Penutup.

Sekian gambaran yang bias saya berikan pada anda mengenai bagaimana teknologi-teknologi sederhana yang dimiliki nenek moyang kita.

Dan teknologi itu pun mungkin yang digunakan saat membangung bangunan macam Candi Borobudur di Indonesia dan masih banyak lagi bangunan-bangunan megah zaman dahulu.
Salam.

Sumber : Buku Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII
[[Baca Selengkapnya....]] "Teknologi Pada Zaman Batu..."

Rabu, 22 Desember 2010

Hewan Misterius dan Keramat

Hewan Keramat !!

Sebelum membahas pointnya tiada salahnya saya mengucapkan selamat Hari Ibu untuk kita semua !!

Kali ini saya masih akan membahas mengenai kehidupan binatang / hewan, namun kali ini hewannya bukan hewan sembarangan. Hewan-hewan berikut merupakan hewan yang dianggap “Keramat” oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Hewan-hewan ini tidak memiliki perbedaan dengan hewan-hewan lainnya pada umumnya. Hanya yang membedakan adalah kepercayaan masyarakatnya...

Kepercayaan masyarakat itu sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, entah dari mana asalnya. Tapi kepercayaan ini begitu mengental dalam masyarakat mulai dari kepercayaan bahwa hewan tersebut mempunyai kekuatan magis sampai hewan yang membawa keberuntungan tersendiri jika memeliharanya.

Berikut beberapa hewan yang termasuk mendapat kepercayaan masyarakat seperti yang dikatakan di atas.

Kucing



Hewan yang lumrah ada di sekitar kita, bagaimana tidak?, hampir di setiap rumah penduduk selalu ditemukan kucing. Nah suatu ketika anda sedang berkendara, Motor atau Mobil, anda tanpa sengaja menabrak seekor kucing hingga mati. Di saat itu anda berpikir dan terngiang perkataan orang tua anda bahwa “ Jika anda menabrak kucing hingga mati, jika tidak dikubur selayaknya akan membawa kesialan dalam diri anda “.

Kenapa harus kucing???


Di dunia barat pun kepercayaan terhadap kucing ada. Pernah menonton fil Hollywood? Terutama film yang berkaitan dengan sihir?. Disana kucing di gambarkan sebagai jelmaan atau teman nenek sihir.

Dan lagi-lagi kenapa harus kucing?? Kenapa tidak anjing atau hewan yang lain saja?

Ada sedikit penjelasan yang mengungkapkan mengapa kucing begitu keramat.

1. Zaman Babylonia

Sejarah bermula dari zaman Babylonia kuno saat kucing hitam dipersembahkan dalam upacara ritual untuk dibakar bersama sesaji lainnya. Mitos ini timbul karena ada seekor kucing hitam yang tidur di tengah-tengah seekor ular dengan pulasnya. Saat itu ular merupakan lambang dari kejahatan jadi ada anggapan bahwa kucing tak kurang atau sama jahatnya. Pemahaman ini terus berkembang hingga abad pertengahan.

2. Zaman Mesir kuno

Tak satu orang pun tahu kapan kucing ini mulai bercokol di bumi. Tapi, peneliti dunia masa silam percaya, nenek moyang kucing adalah Miacis. Binatang liar yang sosoknya mirip musang yang hidup pada masa Eocene, kira-kira 50.000.000 tahun silam. Selain itu Kucing pernah dilindungi oleh Undang-Undang. Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya “situs” berisikan 300.000 mumi kucing dimana semuanya masih utuh menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial.

Catatan paling awal tentang usaha domestikasi kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makam di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini.



Sebuah topeng perunggu digunakan dalam pemakaman mumi kucing di Mesir kuno.
Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.



Dan berikut merupakan Negara-Negara selain Indonesia yang masyarakatnya percaya akan kucing “Keramat” :

Jerman


Di Jerman Ada kepercayaan bahwa apabila ada seekor kucing hitam melompati tempat tidur orang sakit, kematian akan datang pada si sakit.

Normandia


Di Normandia, orang-orang percaya bahwa apabila dalam perjalanan seseorang melihat seekor
kucing hitam yang sedang menyeberang di tengah bulan purnama, orang tersebut akan terserang suatu epidemik.


Firlandia


Di Firlandia, masyarakat percaya bahwa kucing hitamlah yang membawa jiwa manusia ke alam baka.


China


Di China, kehadiran seekor kucing hitam merupakan pertanda bahwa mereka akan terkena penyakit atau akan jatuh miskin.
Di Cina, meletakkan patung kucing (posisi berdiri dengan tangan kanan terangkat ke atas) di luar rumah dan lukisan lukisan kucing di dalam rumah merupakan suatu cara untuk menghindari kemiskinan. Selain itu, dianggap sebuah kesialan jika melihat kucing hitam melintas. Kucing hitam merupakan kawan sejawat penyihir jahat.


India


Di India, jiwa yang bereinkarnasi dapat dibebaskan dengan melempar kucing hitam ke api. Masyarakat Celts percaya bahwa kucing hitam dapat memprediksi masa depan. Druids pada masa Inggris kuno percaya bahwa kucing merupakan jelmaan seseorang yang berbuat jahat di masa lalunya kemudian dihukum menjadi seekor kucing hitam.


Inggris


Di Inggris ada tradisi kuno yang menyatakan bahwa menempatkan kucing atau lebih tepatnya mengubur di depan rumah yang baru dibangun, dianggap akan membawa keberuntungan. Kucing yang lahir pada bulan Mei akan membawa ular ke dalam rumah. Nenek moyang Inggris percaya pada hal itu sehingga mereka waspada setiap melihat kucing.

Angsa Putih ( White Swam)



Kepercayaan “Magis” terhadap hewan ini saya temukan di tempat tinggal saya “Bali”. Angsa Putih dalam mitologi Hindu merupakan Wahana (Kendaraan Suci) Dewi ilmu pengetahuan (Dewi Saraswati).



Dan mungkin karena itu timbul kepercayaan bahwa jika anda menbrak hewan ini, mau tidak mau anda harus melakukan penguburan selayaknya manusia. Dan di Bali jika ada orang yang menbrak hewan ini mereka harus melakukan upacara pembakaran ( Pengabenan ) selayaknya kita manusia.

Gajah Putih



Mitos dan legenda gajah putih dimulai di Asia Tenggara. Dalam cerita Budha, gajah putih dihubungkan dengan pengetahuan.
Pada malam Budha dilahirkan, ibunya memimpikan seekor gajah putih datang menghadiahkannya sebuah bunga teratai, lambang kemurnian dan pengetahuan.
Sepanjang beberapa ratus tahun berikutnya, di dua negara, yaitu Burma dan Thailand (Siam), gajah putih dianggap sebagai hewan penting. Gajah putih merupakan kunci sukses untuk kemiliteran, baik peperangan massa ataupun duel gajah. Gajah putih juga merupakan kunci untuk pertunjukan arak-arakan kebesaran.
Para raja bersedia meluangkan waktu dan tenaga yang banyak untuk berburu gajah di hutan. Gajah putih bukan gajah biasa. Ia memiliki kekuatan keramat dan dianggap dewa peperangan juga pembawa kesuburan.
Bagi raja Burma dan Siam, memiliki hewan keramat ini adalah hal yang sangat penting.  Raja yang memiliki banyak gajah putih yang bagus akan berhasil.
Kerajaannya akan makmur dan pemerintahannya akan berlangsung lama. Jika gajah putihnya mati, akan membawa musibah untuk raja dan pemerintahannya. Bahkan Budha Tiga Dunia memasukkan gajah putih dalam tujuh hal penting yang harus dimiliki  Raja yang hebat.
Pada abad ke-19, gajah putih diresmikan sebagai salah satu keajaiban dunia dari Siam.

Sapi



Hewan ini sangat dihormati oleh penganut agama Hindu di India. Tak ada orang di sana berani mengusir sapi yang berbaring di tengah jalan, misalnya. Sapi dianggap sebagai binatang suci. Hal ini didasarkan pada salah satu peninggalan bersejarah agama Hindu yang menceritakan keterkaitan antara sapi dan Dewa Khrisna.
Dalam peninggalan itu disebutkan Dewa Khrisna pernah menampakkan diri di bumi dalam wujud pengembala sapi, yang kemudian mereka sebut sebagai Bala-Gopala atau Govinda yang artinya seseorang yang melindungi kawanan sapi.
Bahkan dalam salah satu kitab suci lain, sapi diumpamakan sebagai ibu kehidupan karena air susunya yang banyak berguna buat manusia.


Sumber : Majalah Misteri Bali Aga
Baca Juga : Kucing Jawa dan Kucing Bali
[[Baca Selengkapnya....]] "Hewan Misterius dan Keramat..."

Kamis, 09 Desember 2010

Asal Usul Nama Negara “ Indonesia”

Akhirnya Bisa Update Lagi Setelah Melalui Hari Super Sibuk Pada Hari Raya..

Berikut Saya Akan Berbagi Tentang Asal Usul Nama Negara Kita “Indonesia”. Mungkin ada yang sudah tahu. Mungkin ada juga yang belum.
Nah berikut ulasannya.....

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).

Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.



* 1 Nusantara
* 2 Nama Indonesia
* 3 Politik
* 4 Nama Indonesia dalam berbagai bahasa
* 5 Pranala luar

Awalnya Nusantara

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).

 Politik

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,:

"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksgraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.

Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah Republik Indonesia.

Sedikit Tambahan Yang Saya Temukan Di Buku IPS Saya Waktu SMP, Buku PADUAN IPS UNTUK KELAS VII.

Nama Indonesia dalam berbagai bahasa

* Indonesia (Finnish, Indonesian, Italian, Malay, Romansh, Spanish)
* Indónesía (Icelandic)
* Indonésia (Portuguese)
* Indonesja (Maltese)
* Indonésie (Czech, French)
* Indonesië (Afrikaans, Dutch)
* Indonesien (German, Swedish)
* Indonezia (Romanian)
* Indonézia (Hungarian)
* Indonezja (Polish)
* Indonezija (Croatian, Lithuanian, Slovene)
* Indonezija (Latvian)
* Indonezio (Esperanto)
* Endonezya (Turkish)
* Indonesiana (Pig Latin)
* Indoneesia (Estonian)
* Indoneesiä (Võro)
* Indoneziya - (Bulgarian, Russian)
* Indoneshia - (Japanese)
* Indonisía - (Greek)
* Indonashia - - (Urdu)
* Yìndùnìxiyà - baca: Intunisiya(Tionghoa)

Nama Indonesia berasal dari “Indo” dan “Nesie” (dari bahasa Yunani : Nesos) berarti Kepulauan Hindia. Adapun kata “Nesos” itu hampir berdekatan dengan kata “Nusa” dalam Bahasa Indonesia, yang berarti pulau. Orang pertama yang menggunakan nama Indonesia ialah James Richardson Logan (1869) dalam kumpulan karangannya berjudul “The Indian Archipelago and Eastern Asia” terbit dalam Journal of the Asiatic Society of Bengal (1847-1859). Pertama kali dipakai nama Indonesia pada tahun 1850.
Begitu pula Sir William Edward Maxwell (1897) seorang ahli hukum berkebangsaan Inggris yang menjabat sebagai sekretaris jenderal straits settlements yang kemuduian menjadi gubernur Pantai Mas pernah memakai nama ini di dalam kata pembukaan buku “Penuntun Bahasa-bahasa Melayu” hasil karyanya sendiri. Dalam buku ini ia menulis “The Island of Indonesia.”


Nama Indonesia dipopulerkan oleh Profesor Adolf Bastian (1826-1905) seorang ahli ethnology dan anthropology bangsa Jerman yang pernah menjadi guru besar pada universitas di Berlin dalam ilmu bahasa. Bastian ini pernah menulis sebuah kitab bernama “Indonesian Odder Die Inseln des Malayaschen Archipelago” (1884-1889). Dalam bukunya ini ia menegaskan arti kepulauan ini. Sarjana ini berpendapat bahwa Kepulauan Indonesia meliputi suatu daerah yang sangat luas, di dalamnya termasuk Madagaskar di barat, sampai Pulau Formosa di timur dan dengan Nusantara sebagai pusatnya, adalah merupakan suatu totalitas. Dengan demikian maka sudah sejak tahun 1850 dan 1884 nama Indonesia telah dikenal dalam ilmu pengetahuan Indonesia, terdiri dari kurang-lebih 10.000 pulau, 3.000 pulau diantaranya berpenduduk dan didiami manusia. Luasnya meliputi 1.491.564 km ².


Adapun dalam dunia politik nama Indonesia sudah mulai dipergunakan oleh para mahasiswa kita di Negeri Belanda pada tahun 1922 dengan mendirikan perkumpulan yang bernama Perhimpunan Indonesia. Sesudah itu pada tahun 1927 Ir. Soekarno dan kawan-kawan mendirikan suatu partai politik dengan nama Persyarikatan Nasional Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia.
Tahun 1912 sebetulnya secara tidak langsung ini sudah dipergunakan, yaitu sewaktu dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. E.F.E. Dauwes Dekker dan Suwardi Surjaningrat mendirikan parpol bernama Indische Partij. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa baru sejak lahirnya pergerakan nasional, nama Indonesia ini dipergunakan untuk mengganti sebutan Nederlandsch-Indie.


Segala usaha pada zaman sebelum pecahnya perang dunia II, untuk mengganti dalam perundang-undangan sebutan Nederlandsch-Indie dengan Indonesia; dan Inboorling, Inlander, Inheemsche dengan Indonesia tetap mengalami kegagalan, dimana pihak koloni Belanda selalu mendasarkan keberatan-keberatannya atas dasar pertimbangan “Juridis.” Nama Indonesiers hanya boleh dipakai secara resmi dalam surat-menyurat saja (surat edaran 10 Oktober 1940). Sesudah UUD Belanda mengalami perubahan yang berlaku sejak 20 September 1948, barulah dalam UU sebutan Nederlandsch-Indie diganti menjadi Indonesia.
Selain nama Indonesia ada lagi 7 nama yang telah diberikan oleh bangsa asing kepada kepulauan Indonesia ini. 


1. Hindia


Nama Hindia ini adalah buatan dari Herodotus, seorang ahli ilmu sejarah berkebangsaan Yunani (484-425 SM) yang dikenal sebagai bapak Ilmu Sejarah. Adapun nama Hindia ini baru digunakan untuk kepulauan ini, oleh Polomeus (100-178), seorang ahli ilmu bumi yang terkenal. Dan nama Hindia ini menjadi terkenal, sesudah Bangsa Portugis di bawah pimpinan : Vasco da Gama mendapati kepulauan ini dengan menyusur sungai Indus tahun 1948 M.


2. Nederlandsch Oost-Indie


Nama ini diberikan oleh orang-orang Belanda sesudah mereka berkuasa. Kemudian nama ini ditukar dengan “Nedelandsch Indie.” Seperti diketahui, Bangsa Belanda untuk pertama kalinya ke Indonesia pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman.


3. Insulinde


Nama ini diberikan oleh E.D. Dekker (Multatuli) di dalam bukunya Max Havelar tahun 1860, kemudian nama ini dipopulerkan oleh Prof. P.J. Veth. Multatuli membuat nama baru ini karena ia jijik mendengar nama Nederlandsch Indie yang diberikan oleh Belanda. Adapun asal usul perkataan tersebut ialah berasal dari perkataan “Insulair,” “Insula,” dan “Indus.” Insula bahasa latin yang berarti pulau. Indus berarti Hindia, sedangkan Insulinde artinya ialah pulau Hindia.


4. Nusantara


Nama ini ditemukan dalam perpustakaan India kuno, yang menyebut negeri ini Nusantara. Adapun Nusantara atau Dwipantara artinya adalah pulau-pulau yang berada diantara benua-benua. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan, bahwa nusantara ialah pulau-pulau di luar tanah Jawa. Sedangkan dalam sejarah Melayu dipakai nama NUSA TAMARA. Nama inipun sesungguhnya berasal dari perkataan yang diucapkan Nusantara.


5. The Malay Archipelago


Nama ini dibuat oleh Alfred Russel Wallace dalam tahun 1869, sesudah ia mengadakan perlawanan ke tanah air, dari tahun 1854-1862. Adapun “Malay”-artinya ialah Melayu, sedangkan “Archipelago” dari Bahasa Belanda atau Perancis ; “Archipel” yang berasal dari Bahasa Yunani; “Archipelagus” (dari asal kata Archi = memerintah; plagues = laut). Dengan demikian berarti menguasai laut, atau berarti kumpulan pulau-pulau Melayu.


6. L’Inde Insulair


Nama “L’Insulair atau ‘L’Archipel” adalah karya dari Jean Jacquues Elisee Recles (1830-1905) bersama saudaranya Mesime Racles. Nama ini tidak begitu dikenal dan tidak masyur, karena umumnya hanya orang Perancis sajarah yang mempergunakannya.


7. Hindia Timur 


Nama ini adalah karya khas dari ogranisasi Muhammadiyah, yang digunakan di masa penjajahan dahulu untuk mengganti nama “East Indies”. Nama tersebut digunakan resmi oleh organisasi ini. Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di kota Yogyakarta.

Salam.


Sumber : Wikipedia BUKU PADUAN IPS KELAS VII [[Baca Selengkapnya....]] "Asal Usul Nama Negara “ Indonesia”..."

Kamis, 02 Desember 2010

Nyepi !!

Hari kedua bulan desember, hari yang lumayan cerah di Bali..
Kali ini saya sedikit mengulas tentang hari raya nyepi, meskipun bukan suatu misteri, tetapi ini cukup untuk menambah wawasan anda mengenai Nyepi...
Pengertian Nyepi

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.


Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.


Sejarah Nyepi


Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.


Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.


Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka
tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.
Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.
Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.


Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.
Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad.


Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, jüga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan! pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.


Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan


Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.




Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat,mulai dari masing-masing keluarga,banjar,desa,kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.



Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.


Sedikit Mengenai Ogoh-Ogoh


Salah satu keunikan dibali pada saat pengerupukan ( sehari sebelum puncak hari raya nyepi ) adalah, pawai ogoh ogoh.
Ogoh-ogoh sendiri mulai diperkenalkan sekitar th 1993 namun ada juga sumber yang mengatakan bahwa Ogoh-ogoh ada sekitar tahun 80an, yang menggagas disebut-sebut adalah mantan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra yang juga merupakan tokoh budayawan Bali yang selalu mempunyai terobosan inovatif dan mengakomodasi ide / kreatifitas anak muda dan seniman yang dihubungkan dengan ritual keagamaan Hindu menjelang Nyepi yaitu ogoh-ogoh dilambangkan sebagai sifat buruk dalam diri manusia, kebencian, keserakahan, kemabukan, iri hati, ketamakan, loba yang mengkristal selama satu tahun dimana prosesi akhir setelah diarak ogoh-ogoh itu akan dibakar / dimusnahkan sebagai simbol penyucian sifat-sifat buruk manusia. Dan ditahun yang baru diharapkan kita terlahir kembali bersih dan selalu berbuat Dharma sesuai ajaran agama..Entah darimana inspirasinya, secara spontan anak-anak muda di Bali mulai membuat sebuah patung besar berbentuk binatang dari rangkaian bambu yg dihias, kemudian diarak keliling desa saat pengerupukan. Mendapat sambutan yg positif dari masyarakat luas, ogoh-ogoh pun berkembang dari tahun ketahun. Design ogoh-ogoh yg dulunya binatang, kini sudah berkembang menjadi bentuk raksasa, tokoh pewayangan, sampai tokoh kartun & pemain bola. Nilai artistiknya-pun tidak main-main, benar-benar bagus. Akhirnya mulai th 1998 ogoh-ogoh diperlombakan. Ironisnya, hadiah bagi pemenangnya cuman 1.5juta tidak sebanding dgn biaya membuat ogoh-ogh yg mencapai puluhan juta. Tapi semangat anak-anak muda Bali untuk berkarya tidak pernah pudar.

Puncak acara Nyepi


Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari 


amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api),


amati karya (tidak bekerja), 


amati lelungan (tidak bepergian), 


dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). 


Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.
Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.


Ngembak Geni 


Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain.

Penutup.


Masih ada yang kurangkah?
Berikut di bawah ini berbagai macam ogoh-ogoh :








Dan tentunya anda yang belum pernah menyaksikan festival ogoh-ogoh tersebut berikut videonya :



Salam.


Sumber : Wikipedia, Buku Agama Hindu. [[Baca Selengkapnya....]] "Nyepi !!..."

Senin, 29 November 2010

Update : Perilaku Manusia di Jaman Kali-Yuga

Masih inngatkah anda saat posting saya mengenai kaitan zaman kali-yuga dengan kiamat??
Jika anda belum sempat membacanya silahkan baca disini

Klik Disini

Nah kali ini saya sedikit mengupdatenya, berikut 6 sifat manusia d zaman kali-yuga yang menurut pandangan pribadi saya telah terjadi di zaman ini…Tatkala perang Bharatayudha berkecamuk dengan hebatnya di Kuruksetra, ada percakapan yang penting antara Prabu Madra (Sang Salya) dari pihak Korawa dengan kemenakan beliau Sang Nakula dari pihak Pandawa.
Prabu Madra mengingatkan bahwa kelak akan tiba jaman Kali, di mana sebagian besar umat manusia, yaitu 3/4 dari jumlah penduduk dunia akan cenderung berbuat adharma, sedangkan yang berbuat dharma tinggal 1/4 saja. 


Di jaman Kali manusia akan menghadapi peperangan yang lebih dahsyat daripada perang Bharatayudha. Peperangan itu bisa nampak dengan kasat mata dan bisa tidak nampak, tetapi akibatnya atau korban perangnya tiada henti, karena perang itu adalah perang antara dharma melawan adharma. Manusia hanya akan selamat dari korban perang jika ia memakai senjata Kalimusadha.
Jika disimak lebih jauh, pengertian kalimusadha yang artinya “obat di jaman kali” tiada lain adalah senjata menegakkan dharma. Senjata itu tidak berbentuk runcing atau mempunyai daya ledak hebat, tetapi berupa getaran dharma yang tiada lain bersumber pada kitab suci.


Singkatnya, senjata ampuh yang bisa menyelamatkan umat manusia di jaman kali hanyalah jika manusia itu berpegang pada inti-inti ajaran agama yang dapat menuntunnya ke jalan dharma.
Beberapa ahli peneliti menetapkan bahwa jaman Kali dimulai ketika Parikesit (cucu Arjuna) dinobatkan menjadi raja sekitar tahun 800 S.M (Sebelum Masehi) dan berakhir hingga nanti menuju saat pralaya (kiamat).


Selama jaman Kali getaran-getaran dan rangsangan manusia untuk berbuat adharma sangat besar, sehingga membentuk watak dan perilaku manusia yang adharma antara lain:


1. Atyanta kopah. Mudah marah dan kemarahannya meluap-luap tidak terkendali walaupun hanya karena hal-hal yang sepele. Kemarahan itu timbul dari ketidakpuasan karena keinginnannya tidak tercapai sehingga untuk melampiaskan ketidakpuasan itu mereka mencari sasaran korban sesama manusia.

2. Katukaa cawani. Manusia yang suka berkata-kata kasar, keras, membentak, berbohong, menipu, dan memfitnah karena merasa kepentingannya terancam ataupun ingin mencelakakan orang lain.

3. Daridrata. Manusia yang tidak pernah puas akan apa yang telah dimiliki sehingga menimbulkan sifat-sifat lobha, serakah dan sangat kikir, enggan berdana punia dan enggan membantu warga lain yang sedang kesusahan. Yang diutamakan hanya kepentingan dirinya sendiri.

4. Swajanesu Wairan. Manusia yang tega memusuhi keluarganya sendiri karena didorong oleh kepentingan-kepentingan atau ambisi pribadi.

5. Niica prasangga. Manusia yang melaksanakan tugas pekerjaannya bukan berdasarkan ketulusan hati nurani manusia sebagai mahluk sosial, tetapi semata-mata didorong oleh motivasi menggunakan kemampuannya untuk memperkaya diri sendiri tanpa memperhatikan segi sosial, yaitu kepentingan dan kesejahteraan umum atau fungsi pelayanan kepada masyarakat.

6. Kulahiina Sewa. Manusia yang menghambakan diri atau menjadi kaki tangan orang-orang bejat, yaitu orang-orang yang berperilaku dan berpikir adharma, menyimpang dari kaidah-kaidah ajaran agama.

Keenam sifat watak dan perilaku manusia itulah yang membawa dampak makin maraknya perbuatan-perbuatan adharma, makin melebarkan pengaruh getarannya kepada orang-orang suci yang berusaha mempertahankan dharma.

Nah setelah membaca artikel di atas, saya akan coba berikan anda contoh satu-persatu dari 6 sifat tersebut yang saya liat di kehidupan sekarang ini.

Notes : maaf jika contoh-contoh yang saya berikan berikut menyinggung anda. Sekali lagi ini hanya contoh yang saya liat secara nyata. Entah anda percaya anda percaya atau tidak.

1. Atyanta kopah, disana dijelaskan bahwa manusia itu mudah marah jka keinginan yang mereka inginkan tidak terpenuhi. Sebagai contoh : anda suka nonton suatu pertandingan sepak bola? Apa pernah terjadi kerusuhan supporter? Nah .. supporter tersebut rusuh akibat apa? Tentunya karena timnya kalah. Lempar-leparan batu, ada yang membawa senjata tajam, bahkan senjata api. Dan tanpa diperpanjang lagi pastinya akan menimbulkan korban-korban luka atau bahkan meninggal dunia. Nah kejadian sperti itu mnurut say dapt dihindarkan jika setiap dari mereka memiliki kesadaran bahwa suatu pertandingan pasti ada menang dan kalah. Intinya tak selamanya kita berada di atas, suatu saat pasti pernah jatuh ke bawah juga ( Seberapa bagusnya satu tim sepak bola pasti pernah mengalami yang namanya kalah ).



2. Katukaa cawani, disana dijelaskan bahwa manusia itu jika merasa kepentingannya terancam, tak segan untuk memfitnah, berkata kasar, keras, dsb. Saya mabil contoh dari kehidupan sehari-hari kita. Anda pernah berbohong? Jangan pernah berkata tidak. Dari sudut pandang pribadi saya, setiap manusia pasti pernah berbohong. Apa yang anda sembunyikan dari pembohongan tsb? Tentunya sesuatu yang bersifat pribadi bukan?. Sadarkan diri anda.

3. Daridrata, disana dijelaskan bahwa manusia tsb tidak pernah puas akan apa yang dimilki sekarang hingga merugikan orang lain. Contoh : tidak usah anda terlalu berpikir jauh-jauh cukup satu kata yang saya ucapkan. KORUPTOR !!



4. Swajanesu Wairan, disana disebutkan manusia yang rela mengorbankan keluarga demi kepntingan pribadi. Saya sedikit berpikir kembali pada cerita masyrakat Indonesia : Malin Kundang. Seperti saya tidak perlu menceritakan kembali kisah itu, kerena setiap orang di Indonesia pasti sudah tahu akan cerita tsb. Tentunya sekarang ini msih ada segelintir manusia yang seperti itu.



5. Niica prasangga, nah disini menurut saya intinya sama saja seperti Daridrata. Manusia yang bekerja untuk kepentingan diri sendiri. Sekali lagi KORUPTOR.

6. Kulahiina Sewa disebutkan bahwa manusia menyimpang dari ajaran agama. Contohnya : mencari kekayaan dengan jalan menyembah setan, ajaran dari orang yang menyebut dirinya TUHAN, pengorbanan nyawa manusia untuk setan. Jika anda ingin mengetahui salah satu ajaran sesat di dunia ini silahkan baca postingan saya yang ini.

Bohemian Gorve

PENUTUP

Nah dari keenam contoh di atas, bagaimana menurut anda? Apkah sudah terjadikah? Saya berani menyimpulkan bahwa sekarang ini merupakan zaman kali-yuga. Namun saya belum yakin akan adanya kiamat jika setiap manusia mulai berpikir untuk berbuat lebih baik lagi. Karena di setiap agama yang ada di dunia ini meyakini bahwa TUHAN itu Maha Pengampun. Setiap pengampunan butuh yang namanya pembuktian untuk menjadi lebih baik. Contohnya : anda bertengkar dengan pacar atau istri anda, pasti dia menuntut anda untuk tidak mengulangi kesalahan anda terhadapnya.
Salam.


Sumber : Stitidharma [[Baca Selengkapnya....]] "Update : Perilaku Manusia di Jaman Kali-Yuga..."

Sabtu, 27 November 2010

Sumber Air Tirta Empul Berasal Dari Danau Batur !!

Salam damai sejahtera untuk kita semuaa…
Kali ini saya akan sedikit memberi anda ilmu asal dari mata air di Tirta Empul.
Anda taw Tirta Empul???

Sedikit ulasan mengenai tempat nan indah ini…Tirta empul merupakan salah satu obyek wisata di bali, tepatnya di Kabupaten Gianyar, Kecamatan Tampaksiring. Lokasinya tepat di sebelah Istana Presiden di Tampak Siring yang dulu dibangun oleh presiden Soekarno. Pura Tirta Empul terkenal karena terdapat sumber air yang hingga kini dijadikan air suci untuk melukat (Siraman Bahasa Indonesianya) oleh masyarakat dari seluruh pelosok Bali, tak jarang wisatawan yang berkunjung pun tertarik untuk ikut melukat (Siraman).


Pura Tirta Empul ini juga merupakan salah satu situs peninggalan sejarah di Bali khususnya Gianyar. Oleh karena itu pula, presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno mendirikan sebuah Istana Presiden tepat di sebelah barat Pura Tirta Empul, Tampak Siring. Para presiden Indonesia yang datang ke Bali biasanya menyempatkan diri singgah ke Istana Presiden Tampak Siring tersebut. Saat ini pura Tirta Empul dan lokasi tempat melukat tersebut merupakan salah satu lokasi wisata unggulan di kabupaten Gianyar.



Nah setelah mengetahui Tirta Empul, kini mari kita bahas sumber air tersebut, diantara anda mungkin sudah tau mengenai danau ini!!

Danau Batur

Danau Batur adalah danau terbesar di Pulau Bali, dari tiga danau lainnya, yaitu: Tamblingan, Bulian (Buyan), dan Beratan. Terletak di Kabupaten Bangli, tepatnya pada 115,29 bujur timur dan 8,28 lintang selatan. Luasnya 6 Km2 merupakan lembah dari Gunung Batur.
Desa-Desa yang ada di sekitar danau, adalah: Songan, Trunyan, Abang, Buahan, Kedisan, dan Toya Bungkah. Danau Batur dan Gunung Batur merupakan satu kesatuan alam dan mitologi yang tidak dapat dipisahkan.


Dalam Babad Pasek dan Babad Pasek Kayu Selem disebutkan bahwa tiga bersaudara, yaitu: Bhatara Hyang Gni Jaya, Bhatara Hyang Mahadewa, dan Bhatari Dewi Danuh, telah diutus ke Bali oleh ayahanda beliau: Hyang Pasupati yang berstana di Puncak Gunung Prabulingga (Gunung Semeru) untuk menguatkan kedudukan, dan kekekalan Pulau Bali.
Bhatara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang sebagai Brahma, Bhatara Hyang Mahadewa (Putranjaya) berstana di Gunung Agung sebagai Siwa, dan Bhatari Dewi Danuh berstana di Danau Batur sebagai Wisnu.

Selanjutnya putra-putra Bhatara Hyang Pasupati lainnya (4 Dewa) masing-masing berstana di Andakasa, Pucak Mangu, Batukaru, dan Pejeng, sehingga seluruh putra Bhatara di Bali berjumlah 7 Dewa (Sapta Kahyangan).
Di Desa Manukaya, Tampaksiring, sebuah mata air besar ditata menjadi sebuah telaga yang indah, pada tahun 962 M oleh Raja Bedahulu: Candrabhaya Singha.
Sesuai dengan tatanan adat dan agama di zaman Bali Kuna, Kerajaan Bedahulu memiliki tiga buah pura utama, yaitu: Pura Gunung, Pura Penataran, dan Pura Segara.

Sebagai Pura Gunung ditetapkanlah telaga ini yang kemudian dinamakan Pura Tirta Empul. Sebagai Pura Penataran dibangun Pura Samuan Tiga, karena letaknya dekat Istana Bedahulu. Pura Tirta Empul menjadi tempat suci stana Bhatara Indra. Selanjutnya Bhatara Indra diyakini telah menciptakan tirta-tirta:



1. Tirta Tegteg
2. Tirta Sudamala
3. Tirta Panglukatan
4. Tirta Pamarisuda
5. Tirta Pamlaspas
6. Tirta Panglebur Ipian Ala
7. Tirta Pangentas
8. Tirta Pabersihan.



Tirta-tirta itu dialirkan melalui pancuran sehingga warga yang datang untuk metirta yatra dan mensucikan diri, dapat memilih pancuran tertentu sesuai dengan permohonan mereka kepada Bhatara Indra. Mata air besar ini mengalir ke Tukad Pakerisan dan Tukad Patanu.

Sejarah Tirta Empul

Cerita Tirta Empul ada dalam Lontar Usana Bali dalam bentuk kekawin yang dinamakan Mayadanawantaka.
Menurut IBG Agastia, Mayadanawantaka artinya “kematian” Mayadanawa. Sedangkan Mayadanawa adalah maya tattwa. Mayatattwa adalah keyakinan dalam pikiran manusia bahwa kehidupan di dunia semata-mata digerakkan oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan atas benda-benda materi (duniawi) saja.
Bila manusia terbelenggu oleh mayatattwa maka ia akan mengumbar nafsu (kama), rakus (lobha), pemarah (kroda), sombong (mada), berbohong (moha), dan irihati (matsarya).


Keenam sifat buruk itu dinamakan sadripu (enam musuh), yakni musuh-musuh yang ada dalam diri setiap manusia. Mayatattwa harus diperangi dengan Purushatattwa.
Purushatattwa juga dinamakan Siwatattwa, atau keyakinan yang didasari oleh pikiran kuat yang percaya pada Sanghyang Widhi (Siwa) serta kesucian Agama Hindu-Bali, agar kehidupan dapat diselenggarakan dengan mengutamakan aspek spiritual.



Koneksitas mitologi



Dalam Purana Tattwa Batur di bagian Raja Purana Pura Ulun Danu
Batur disebutkan bahwa Bhatari Dewi Danuh yang berstana di Danau Batur “bersaudara” dengan Bhatara Indra yang berstana di Tirta Empul.
Dalam Purana itu Bhatari Dewi Danuh bernama lain: I Ratu Ayu Mas Membah. Pada suatu ketika, I Ratu Ayu Mas Membah bertemu dengan Bhatara Indra, untuk menetapkan kedudukan tiga putra Bhatara Indra, yakni: Bhatara Tirta Mas Manik Kusuma berstana di Gunung Agung, Bhatara Tirta Mas Manik Mampeh di Gunung Batur, dan Bhatara Bale Agung di Manukaya.



Koneksitas alam



Jika melihat peta, jelas sekali terlihat adanya jalur aliran sungai di bawah tanah antara Danau Batur dengan mata air Tirta Empul.
Ada kemungkinan di dasar danau ada celah rekahan sehingga air danau mengalir di bawah tanah, yang kemudian di lapisan tanah yang lembut di Manukaya, air ini menyembur keluar menjadi mata air.

Tirta Empul adalah semburan mata air yang terbesar di kawasan Bali Selatan. Mata air yang lebih kecil banyak terdapat di sekitar lereng bukit, tebing sungai dan di cekungan-cekungan tanah di Kabupaten Bangli, Gianyar, Klungkung dan Karangasem.
Rembesan air Danau Batur berupa mata air juga ditemukan di Bali Utara, misalnya di dekat Pura Ponjok Batu, Yeh Sanih, Bukti, Bondalem, dan Tejakula.

Bagaimana??
Salam.


Sumber : Stitidharma [[Baca Selengkapnya....]] "Sumber Air Tirta Empul Berasal Dari Danau Batur !!..."

Rabu, 24 November 2010

KALI-YUGA KAITANYA DENGAN KIAMAT !!!

Salah satu yang saya suka yang ini. Teori-terori kiamat seperti ini !!
Selain kalender suku maya (yang disebutkan 2012 merupakan akhir zaman) ada juga teori seperti yang akan saya uraikan di bawah ini.

Kali-Yuga……Kali-Yuga adalah salah satu dari empat (catur) Yuga yang kondisi kehidupan manusianya paling buruk dan paling jelek akibat kegelapan spiritual. Keempat Yuga dimaksud adalah

(a) Satya-Yuga.
(b). Treta-Yuga.
(c). Dvapara-Yuga, dan
(d). Kali-Yuga.


Sejarah

KAPAN KALI-YUGA MULAI?

Berdasarkan penelitian seksama terhadap Jyotir-Veda (ilmu Astronomi Veda), para akhli sarjana tradisional Veda) menyatakan bahwa Kali-Yuga mulai pada tanggal 18 Pebruari 3102 SM ketika Raja Pariksit naik tahta Kerajaan Hastinapura. Dikatakan bahwa pada hari itu ke 7 (tujuh) planet termasuk Bulan dan Matahari tidak dapat dilihat dari Bhumi, sebab mereka berjejer lurus satu arah dibalik Bhumi. Sementara itu, planet Rahu yang tidak bisa dilihat mata telanjang, tepat berada diatas Bhumi di langit yang gelap gulita. Oleh karena tahun Masehi telah berlangsung selama 2006 tahun, maka pernyataan bahwa Kali-Yuga mulai sekitar 5.100 tahun yang lalu diakui sebagai kebenaran oleh para penganut ajaran Veda.



BERAPA LAMA KALI-YUGA BERLANGSUNG?

Veda menyatakan bahwa Kali-Yuga berlangsung selama dvadasabda satatmakah, dua abad deva, atau 1.200 tahun deva Menurut tahun manusia, Kali-Yuga berlangsung selama 1.200 x 360 = 432.000 tahun (1 hari deva = 1 tahun manusia). Dari jumlah ini, 5.100 tahun telah berlalu,
sehingga Kali-Yuga punya jangka waktu berlangsung yang masih lama yaitu 426.900 tahun manusia.



JAMAN KEMEROSOTAN AKHLAK DAN MORAL

Kali-Yuga sebagai jaman kemerosotan akhlak dan moral ditunjukkan oleh pernyataan-
pernyataan Veda berikut.
Veda menyatakan,”Sa kalir tamasa smrtah, Kali-Yuga disebut jaman tamas, kegelapan/kebodohan”. Tamas (kegelapan/kebodohan) adalah salah satu unsur Tri-Guna, tiga sifat alam material yaitu sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan). Mengenai sifat alam tamas ini, Veda menjelaskan sebagai berikut, “Sifat alam tamas ini menyebabkan manusia mengkhayal, sehingga manusia menjadi berpikir tidak waras, malas dibidadang kerohanian dan banyak tidur”. Selanjutnya dikatakan,”Adharmam dharman iti ya manyate tamasavrta, diliputi sifat tamas, manusia menganggap yang benar adalah salah dan yang
salah adalah benar, sehingga sarvarthan viparitams ca, segala kegiatannya menuju ke-arah sesat”. Penjelasan Veda lebih lanjut adalah sebagai berikut:

(a) Dalam masa Kali-Yuga, manusia cendrung semakim rakus, berprilaku jahat (korup) dan tidak mengenal belas-kasihan. Mereka bertengkar satu dengan yang lain tanpa alasan benar. Mereka bernasib malang, diliputi beraneka-macam keinginan material dan sudra-dasottarah prajah, mayoritas tergolong sudra dan manusia tidak beradab.

(b) Kegiatan tipu-menipu dan berbohong, malas dibidang kerohanian, banyak
tidur dan tindak kekerasan, kecemasan, kesedihan, kebingungan, ketakutan
dan kemiskinan merajalela.

CIRI-CIRI KALI-YUGA

Disini saya sajikan 24 (dua puluh empat) ciri
Kali-Yuga sebagaimana dijelaskan oleh Rishi
mulia Sukadeva kepada Raja Pariksit.
1. Dharma merosot dan Adharma berkembang subur.
2. Kualitas, moral dan hidup manusia merosot.
3. Manusia bertabiat Asurik (jahat).
4. Manusia munafik dan curang.
5. Raja, kepala da pejabat negara bermoral buruk dan rendah.
6. Kekayaan material dan keniknatan duniawi menjadi tujuan hidup.
7. Hukum dan keadilan ditentukan oleh kekuasaan
8. Perkawinan berlangsung karena daya tarik material dan sex berdasarkan prinsip suka sama suka.
9. Segala urusan dan hubungan bisnis berlandaskan tipu-muslihat.
10. Para brahmana sibuk dengan urusan mengenyangkan perut dan memuaskan kemaluan.
11. Aturan hidup varna-asrama dharma dicampakkan.
12. Manusia selalu berpikir keliru.
13. Kekuasaan dicapai melalui kekuatan.
14. Rakyat menderita karena bencana alam, kelaparan, beban pajak, penyakit dan kecemasan.
15. Wanita hidup bebas dan tidak suci.
16. Veda dimengerti dengan pola pikir atheistik.
17. Kota-kota dikuasai para bandit.
18. Sapi dibunuh untuk makanan.
19. Majikan dan pelayan saling tidak setia.
20. Laki-laki dikendalikan wanita.
21. Orang-orang sudra menipu melalui praktek kerohanian.
22. Manusia menjadi amat individualistik.
23. Manusia dan alam terkena polusi, dan
24. Manusia melalaikan Tuhan karena berwatak atheistik.



PENJELASAN


Setelah saya uraikan di atas menurut anda apakah cirri-ciri itu sudah terjadi?
Tentu saja sudah !!
Bukan begitu???

PENUTUP
Singkatnya, kelak ketika Kali-Yuga menjelang berakhir, manusia akan hidup seperti binatang saja. Mereka disebut dvipada- pasuh, binatang berkaki dua. Dengan berpegang pada adharma sebagai pedoman hidupnya, manusia tidak lagi mengenal etika, sopan-santun, tata-susila, moralitas atau budipekerti. Dikatakan,”Sva vid varahostra kharaih samsthutah purusah pasuh, manusia hidup seperti binatang dan dari antara mereka sendiri, mereka pilih yang (secara pisik) paling kuat jadi pemimpin”. Maka praktis manusia ter-benam dalam samudra derita kehidupan material biadab dan berdosa.

Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya zaman Kaliyuga. Hujan akan turun bukan pada musimnya ketika akhir zaman Kaliyuga sudah mendekat.

Salam.
[[Baca Selengkapnya....]] "KALI-YUGA KAITANYA DENGAN KIAMAT !!!..."

Selasa, 23 November 2010

Sangeh, Misteri Pohon Pala

Come Back to Bali
Hehehee
Ada salah satu misterii yang membuat saya tertarik untuk membahasnya. Meski misteri ini sudah cukup lama ada, tapi saya sungguh-sungguh tertarik membahsanya. Sama seperti Pohon Beringin, kali ini juga menyangkut tumbuh-tumbuhan/pohon yang dianggap misterius oleh masyarakat. Barangkali anda belum sempat membaca misteri pohon beringin…
silahkan untuk membacanya

suatu kepercayan masyarakat Dunia khususnya Indonesia tak pernah lepas dari kepercayaan terhadap Mitos atau Legenda yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.....Naah.. kali ini saya juga akan membahas sebuah mitos kepercayaan masyarakat Bali.

Anda taw SANGEH???


Mmmmm
Mungki sebagian dari andasudah mengetahuinya… jika belum saya akan mengulasnya sedikit sebelum masuk ke pkok utama kita.

Sejarah

Sangeh adalah nama sebuah desa, yang dibagian utara desanya ditumbuhi pohon Pala seluas 14 hektar dan dihuni oleh ratusan kera. Pohon pala seperti itu tidak dijumpai di tempat lain di Bali dan keberadaannya di Sangeh ini merupakan misteri. Sebuah pura kecil diselimuti lumut hijau tersembunyi disela sela hutan pala yang menjulang tinggi itu.
Di punggung sebuah tugu pura tersebut di pahat patung Garuda, seekor burung mistik yang di dalam cerita Samudramantana dikisahkan sedang mencari tirta Amerta di dasar samudra, kemudian atas jasanya oleh Betara Wisnu, dihadiahkan seteguk kepadanya, akhirnya Garuda menjadi kendaraan setia Bathara Wisnu.

Legenda lain menceritakan bahwa penghuni hutan tersebut adalah prajurit kera yang kelelahan di dalam pertempuran membunuh Rahwana. Kera kera itu jatuh bersamaan dengan bungkahan gunung dan hutan yang dipakai menghimpit tubuh Rahwana kemudian menetap di hutan itu.
Cerita lain juga mengatakan bahwa seorang putri kerajaan Mengwi bernama Mayangsari yang sedang kasmaran, gagal bertunangan, akhirnya melarikan diri ke hutan terdekat dan menjadi seorang pertapa. Di dalam pelariannya itu dia tidak memakai sehelai pakaian pun, sehingga harus memakai rambutnya yang panjang untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling terlarang. Dia gagal mewujudkan impiannya dan meninggal secara gaib. Masyarakat setempat percaya, bahwa dewi itu kini menjadi Bethari Mayangsari.

Sedikit Tentang Sangeh

Taman Wisata Alam Sangeh, mungkin memang belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, padahal Sangeh terletak di sebuah pulau terkenal di Indonesia yaitu Bali. Taman Wisata Alam Sangeh terletak di Desa Sangeh, Badung, Bali, sekitar 20km dari Denpasar.



Taman Wisata Alam Sangeh memiliki pesona wisata hutan yang banyak dihuni oleh ratusan kera. Kera kera Sangeh dahulu memang dikenal sangat liar dan seringkali mengganggu para pengunjung. Kera Sangeh juga dikenal sangat jahil, karena seringkali mengambil barang-brang pengunung yang akan dikembalikan bila kera-kera tersebut diberi sepotong makanan. Namun sekarang kera Sangeh tidak lagi seliar dan sejahil dahulu, karena sekarang kera-kera tersebut telah diurus dengan baik.


Kera Sangeh juga memiliki beberapa kelompok yang masing-masing kelompok memiliki satu pemimpin. Namun, kelompok-kelompok tersebut memilki pimpinan teringgi atau bisa dibilang raja dari seluruh raja kera yang ada di Sangeh. Pemimpin tertinggi ini berdiam ditempat yang paling luas di. Ditempat rajakera ini tinggal terdapat sebuah Pura Yang sangat terkenal kesakralannya yaitu Pura Bulit Sari. Entah bagaimana caranya, pemimpin kera dipilih karena memiliki kekuatan dan kharisma yang sangat luar biasa. Bahkan mereka memiliki hak-hak yang lebih dibanding kera lainnya, seperti saat mengawini kera betina atau saat mendapat jatah makanan. Bisanya raja kera akan mendapat jatah pertama sampai ia puas, sebelum memberikan jatah tersebut pada kera-kera lain.



Sebagian besar kawasan hutan wisata ini, menjadi tempat bermukim kera, hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan para pengusaha untuk membuat beberapa kios tempat menjual beraneka ragam \ cinderamata. Hutan wisata ini memang banyak ditumbuhi tanaman pala (dipterocarpustrinervis). Menurut informasi hutan pala ini telah berumur ratusan tahun, bahkan diantara pohon pala tersebut konon ada yang telah berumur lebih dari tigaratus tahun. Menurut pengelola Taman Wisata ini, Hutan Wisata Sangeng dibuat sebagai taman dari kerajaan Mengwi. Agar terlihat cantik taman ini ditanami pohon pala yang khusus didatangkan dari Gunung Agung. Sebenarnya rencana pembuatan
taman ini sangat dirahasikan namun akhirnya pembuatan taman ini diketahui oleh beberapa orang, akibatnya pembuatan taman itu dihentikan, hingga akhirnya kawasan itu diberi nama Sangeh, yang artingya ada orang yang melihat.

Misterii Pohon Pala

Jika kita sempat mengunjungi taman wisata ini, kita pasti akan tertarik dengan keindahan pohon pala yang tumbuh dihutan ini, karena selain tumbuhnya lurus, pohon pala juga memiliki kayu yang sangat bagus. Namun anehnya, menurut beberapa sumber pohon pala Sangeh konon tidak bisa ditanam ditempat lain. Hingga orang-orang yang ingin memiliki kayu pohon Pala tidak pernah kesampaian.
Ada hal menarik diceritakan oleh para pengunjung dan pengelola Taman Wisata Sangeh tentang sebuah pohon yang telah tua dan akan roboh. Dari perkiraan banyak orang, pohon tersebut akan roboh kearah Pura Bukit Sari, namun kenyataanya semua ternyata melenceng. Awalnya pohon tersebut akan ditebang namun tidak ada yang berani karena takut mendapat kutukan.



"Sekitar awal Januari, akhirnya pohon itu roboh sendiri, mengarah ke barat daya. Persis antara bangunan Bale Kulkul dan Pewaregan, sehingga hanya sedikit sekali menimbulkan kerusakan, hanya pada tembok luar Pewaregan saja. Ini mengherankan karena seharusnya pohon itu tumbang persis di bangunan utama pura," kata Sumohon. Selain pohon pala, masih ada tanaman yang terkenal di hutan Sangeh. Masyarakat setempat biasa menyebutnya Pohon Lanang Wadon, karena bagian bawah pohon itu berlubang sehingga menyerupai alat kelamin perempuan, sedangkan di tengah lubang tersebut tumbuh batang yang mengarah ke bawah yang terlihat seperti alat kelamin pria. Pohon itu tumbuh persis di pelataran depan tempat wisata Sangeh dan sebenarnya merupakan pohon pule.



Di Bali, pohon pule memiliki banyak keistimewaan karena kayunya sering digunakan untuk keperluan khusus, misalnya, membuat topeng yang dipakai sebagai sungsungan. Masyarakat kadang-kadang ada yang meminta kayu pule itu, kata Subawa. Tetapi, tentu saja tidak boleh begitu saja orang mengambil kayu atau dahannya karena harus disesuaikan dulu hari baiknya serta memberi persembahan sebagai tanda minta ijin.

Penutup.
Nah.. Hampir sama kan dengan Pohon Beringin??
Mohon Komentarnya..
Salam.
[[Baca Selengkapnya....]] "Sangeh, Misteri Pohon Pala..."
 

Peringatan Dini !!

Protected by Copyscape Online Infringement Detector

Bookmark

Share |

Format Akses Sisi Lain Lewat Handphone

Mobile Edition
By Blogger Touch
Add Sisi Lain Mippin widget

Yahoo Massanger

Get snow effect

Followers